peluang bisnis fintech, financial technology adalah, contoh fintech, pengertian fintech menurut para ahli, CROWDE Membangun Bangsa, crowde penipu, crowde penipuan, crowde ojk, cara investasi di crowde, crowde karir, pendiri crowde Yohanes Sugihtononugroho, investasi crowde, jurnal financial technology, perkembangan fintech di indonesia, makalah financial technology, kelebihan dan kekurangan fintech, perkembangan fintech di indonesia 2019, contoh finansial teknologi

Crowde: Peluang Bisnis Fintech (Financial Technology) Masih Tinggi

Yohanes Sugihtononugroho (26), CEO and Founder Crowde mengaku masih melihat peluang bisnis fintech yang tinggi di industri bisnis fintech (financial technology).

Menurut Yohanes, masih banyak segmen yang belum terjangkau oleh para pelaku bisnis fintech. Seperti market Crowde yang merupakan kalangan petani  dan para pemilik modal.

Melalui Crowde, para petani dan pemilik modal dapat melakukan pendanaan secara transparan. Dalam ceritanya kepada Warta Ekonomi beberapa waktu lalu di Jakarta terkait peluang bisnis fintech dan prospek bisnis fintech.

Yohanes mengungkapkan bahwa solusi tersebut hadir karena adanya kelemahan dari agriculture di Indonesia, yaitu tidak transparannya proses pendanaan di industri agrikultur, yang menyebabkan para petani sulit untuk sejahtera.

Crowde: Peluang Bisnis Fintech yang Terfokus untuk Industri Agrikultur

peluang bisnis fintech, financial technology adalah, contoh fintech, pengertian fintech menurut para ahli, CROWDE Membangun Bangsa, crowde penipu, crowde penipuan, crowde ojk, cara investasi di crowde, crowde karir, pendiri crowde Yohanes Sugihtononugroho, investasi crowde, jurnal financial technology, perkembangan fintech di indonesia, makalah financial technology, kelebihan dan kekurangan fintech, perkembangan fintech di indonesia 2019, contoh finansial teknologi
Yohanes Sugihtononugroho, CEO and Founder Crowde

“Jadi tidak tau dananya kemana, uang diperuntukkan untuk apa dan sebagainya. Akhirnya semua menyangka bahwa agriculture industry adalah industri yang kotor, yang korup, yang tidak menarik untuk investasi. Maka dari itu Crowde memperlihatkan kepada marketnya bahwa investasi di industri agrikultur bisa sangat jelas dan transparan,” tungkasnya di Jakarta, Kamis (14/09/2018).

Alasan kedua hadirnya Crowde, Yohanes menjelaskan, adalah untuk mengedukasi para petani agar melek teknologi dan literasi keuangan.

“Karena kedepan teknologi akan merajai industrinya dan tergantung nantinya masih ada pekerjaan petani enggak kalau mereka sudah menguasai teknologi,” tutur Yohanes.

Meski mengaku sulit untuk menghidupkan solusinya tersebut di dunia pertanian, karena banyak berbenturan dengan lintah darat dan para tengkulak, Yohanes tetap optimis bahwa bisnisnya yang bermisi sosial dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi di dunia pertanian.

“Mereka (lintah darat dan tengkulak) bukan untuk membuat petani menjadi mampu, akan tetapi untuk membuat para petani semakin tidak mampu dan terus menerus membutuhkan mereka. Sementara Crowde adalah mengajak para petani yang tidak mampu menjadi mampu, dan yang mampu menjadi entrepreneur,” jelasnya Yohanes.

Crowde juga merupakan fintech yang menjembatani para petani untuk tidak menjual barang dengan harga murah atau langsung ke pasar.

Mungkin banyak yang belum mengetahui hal ini terkait pengalaman dan keluhan para pelanggan kepada pihak Crowde yang bisa Anda baca secara gamblang pada artikel dibawah ini:

“Ketika ada UKM yang membutuhkan pasokan barang dari petani, Crowde menjembatani,” tuturnya.

Bacalagers Media

Platform Media Digital Seputar Gaya Hidup Terkini, Peluang Bisnis, Peluang Usaha, Tips Kesehatan, Android Terbaru, Panduan Belajar SEO, Tips menjadi Blogger Sukses, Info Investasi Properti di Indonesia.

Follow us

Mari bergabung dan menjadi bagian dari Sahabat Bacalagers Media Community Indonesia ~