Globicephala macrorhynchus atau paus pilot sirip pendek. wikimedia commons/cayambe

Setidaknya 52 paus pilot sirip pendek atau short finned pilot whales (Globicephala macrorhynchus) terdampar di Pantai Desa Patereman, Kecamatan Modung, Bangkalan, Jawa Timur, pertengahan Februari lalu.

Hanya tiga ekor saja yang bertahan hidup dan berhasil dievakuasi kembali ke laut, sementara sisanya dikuburkan di pantai.

Pria memeriksa 3 individu paus pilot yang mati di pinggir pantai.
Petugas memeriksa kondisi Paus Pilot Sirip Pendek (Globicephala macrorhynchus) yang mati saat terdampar di Pantai Modung, Bangkalan, Jawa Timur, Sabtu (20/2/2021).
ANTARA FOTO/Zabur Karuru/rwa.

Ini bukan kali pertama satwa laut, baik paus, hiu, hingga lumba-lumba, terdampar di wilayah pantai Indonesia. Baru-baru ini, 49 individu paus pilot sirip panjang terdampar di pantai Selandia Baru.

Bisa dibilang, fenomena terdamparnya satwa laut adalah fenomena global dan tidak hanya terjadi di Indonesia.

Berikut wawancara dengan Sekar Mira, peneliti mamalia laut, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang kasus ini :

Apa arti terdamparnya Paus Pilot yang kemarin itu? Apakah ini mengancam kelestarian mereka?

Nama ilmiah dari paus pilot yang terdampar kemarin adalah Globicephala macrorhynchus atau short finned pilot whales.

Status spesies ini terdapat dalam dalam IUCN Redlist, sebuah daftar yang dikeluarkan oleh IUCN (International Union for Conservation for Nature) terkait status flora dan fauna di seluruh dunia, adalah Least Concern (Tidak Mengkhawatirkan), pada tahun 2018.

Least concern artinya sudah diketahui ada ancaman, yaitu, perburuan yang terjadi di Jepang, tetapi belum ada bukti penurunan populasi sehingga masih masuk ke tidak mengkhawatirkan.

Sebelumnya, pada tahun 2011, status paus pilot sirip pendek ini adalah Data Deficient (Kurang Data), karena data terkait populasi masih sangat kurang.

Meskipun tren penurunan populasi tidak terdeteksi karena minimnya data, namun terdamparnya paus pilot, yang merupakan ciri mereka yang hidup berkelompok, dan perburuan tradisional di Jepang dicurigai dapat menurunkan populasi, setidaknya di perairan Jepang.

Apa keistimewaan paus pilot?

Mereka hidup berkelompok dalam jumlah besar, dari puluhan hingga ratusan ekor dan memiliki keterikatan sosial yang tinggi.

Kelompoknya adalah kelompok matriarkal yang dipimpin oleh betina dewasa.

Mereka juga melakukan pergerakan mengikuti pemimpin kelompoknya (the pilot), sehingga jika terjadi sesuatu pada pemimpinnya mereka dapat terdampar bersamaan dan mungkin akan terjadi beberapa kelompok, seperti pada kejadian di Sidoarjo pada tahun 2016.

Apakah ini kejadian paus terdampar yang pertama kali untuk tahun 2021? Bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, apakah ada tren peningkatan?

Tidak. Kejadian paus pilot terdampar sudah terjadi beberapa kali di Indonesia.

Sejak tahun 1996, Whale Stranding Indonesia, lembaga nirlaba yang mencatat kasus keterdamparan pada cetacean (paus dan lumba-lumba), telah mencatat 27 kasus terdamparnya spesies paus pilot ini.

Sampai saat ini, dari 27 kejadian tersebut, angka tertinggi jumlah individu adalah 93 paus pilot terdampar di Donggala, Sulawesi Tengah, pada tahun 2006. Sehingga, tidak dapat dikatakan ada tren peningkatan jumlah yang signifikan.

Bulan Februari 2021 ini, memang saya mencatat banyak kejadian terdampar pada waktu berdekatan, seperti lebih dari 3.500 individu penyu laut terdampar di Texas, Amerika Serikat, satu individu paus sperma kerdil (Pygmy sperm whale) di California, Amerika Serikat, 100 individu lumba-lumba di Mozambik, dan baru-baru ini 49 individu paus pilot sirip panjang di Selandia Baru.

Sehingga, bisa dibilang bulan Februari ada fenomena global terdamparnya satwa laut, tidak saja di Indonesia.

Apa ada penjelasan kenapa mereka terdampar di Bangkalan, Jawa Timur?

Kejadian terdamparnya satwa dapat menjadi jendela bagi kita untuk mengetahui adanya gangguan atau kondisi yang tidak kondusif di perairan. Sangat banyak kemungkinan penyebabnya.

Penyebabnya yang bersifat individual, seperti penyakit, mungkin dapat sedikit kita kesampingkan karena ternyata bulan Februari terjadi banyak kasus keterdamparan lintas wilayah dan spesies, artinya tidak terjadi di satu tempat dan tidak hanya satu jenis mamalia laut, bahkan penyu laut pun terdampak.

Ini mungkin berhubungan dengan kondisi cuaca ekstrem yang diprediksi oleh BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), berupa gelombang tinggi 2 hingga 4,5 meter dan badai Matahari yang dapat mengganggu medan magnet bumi.

Jadi, bisa dimengerti jika navigasi para mamalia laut terganggu karena ada perubahan pada medan magnet bumi yang dipengaruhi badai matahari.

Saat navigasi terganggu, maka kawanan paus pilot ini dihantam gelombang besar yang terus membuat mereka terdampar.

Selain itu, untuk kasus di Madura, teman-teman relawan yang berada di lokasi mengatakan adanya fenomena air terlihat kemerahan.

Ini menimbulkan potensi penyebab yang lain, yaitu adanya HAB (Harmful Algae Bloom) dari spesies microalgae yang memiliki toksin atau racun.

Namun, hal ini tentu harus dibuktikan dengan pemeriksaan sampel air di lokasi dan pengambilan sampel dari tubuh paus yang terdampar untuk studi lanjut.

Terkait penanganan satwa laut yang terdampar, apakah ada prosedur seandainya masyarakat mendapati ada paus atau satwa laut lainnya yang terdampar?

Langkah awal adalah memberi laporan kepada pihak yang berwenang seperti POLAIR (polisi air) dan dinas perikanan setempat.

Saat petugas belum datang, mereka dapat membantu untuk memposisikan tubuh satwa ke posisi normal, di mana mereka dapat bernapas dengan baik. Perhatikan agar lubang napas menghadap ke atas dan tidak terhalang kotoran.

Kemudian, untuk menjaga kelembaban kulit satwa, basahi kulit satwa dengan air dengan tetap melindungi mata dan lubang napas dari air, dan memberikan bantuan menggiring ke laut bagi yang masih hidup.

Warga setempat menarik Paus Pilot Sirip Pendek (Globicephala macrorhynchus) yang terdampar di Pantai Modung, Bangkalan, Jawa Timur, kembali ke lautan.
ANTARA FOTO/Zabur Karuru/hp.

Hingga saat ini, pemerintah pusat sudah melakukan lebih dari 100 pelatihan penanganan satwa laut yang terdampar di berbagai daerah.

Namun, tentu saja kejadian tiba-tiba ini harus terus diantisipasi dengan membangun sistem untuk menangani kasus satwa terdampar.

Untuk satwa yang sudah mati, jika kondisi masih segar (kode 2) sebaiknya diserahkan kepada lembaga penelitian untuk studi lanjut paska kematian.

Jika hal ini tidak dimungkinkan, dapat dibantu dengan pencatatan dan pengukuran serta pengambilan sampel untuk studi lanjut.

Sedangkan, penanganan bangkai sendiri secara ringkas dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu: dikubur, ditenggelamkan atau dibakar.

Penanganan terhadap bangkai perlu dilakukan untuk menghindari zoonosis atau penyebaran penyakit kepada manusia.


The Conversation